Revolusi Bolivarian
Venezuela menyatakan dirinya sebagai "Wilayah Bebas Buta Huruf"
Venezuela
Pada 28 Oktober 2005, Venezuela menyatakan dirinya sebagai "Wilayah Bebas Buta Aksara", setelah meningkatkan perkiraan awal tingkat literasi menjadi sekitar 99%, meskipun statistik tersebut diubah menjadi 96%. Menurut standar UNESCO, suatu negara dapat dinyatakan "bebas buta aksara" jika 96% penduduknya yang berusia di atas 15 tahun dapat membaca dan menulis. Menurut Francisco Rodríguez dan Daniel Ortega dari IESA, terdapat "sedikit bukti" mengenai "efek yang dapat dibedakan secara statistik terhadap buta aksara di Venezuela". Pemerintah Venezuela mengklaim telah mengajari 1,5 juta warga Venezuela untuk membaca, namun penelitian tersebut menemukan bahwa "hanya 1,1 juta yang awalnya buta aksara" dan bahwa pengurangan buta aksara yang kurang dari 100.000 dapat dikaitkan dengan orang dewasa yang sudah lanjut usia dan meninggal dunia. David Rosnick dan Mark Weisbrot dari Center for Economic and Policy Research menanggapi keraguan ini, dengan menemukan bahwa data yang digunakan oleh Rodríguez dan Ortega adalah ukuran yang terlalu kasar karena Survei Rumah Tangga yang menjadi sumbernya tidak pernah dirancang untuk mengukur literasi atau keterampilan membaca dan metode mereka tidak tepat untuk memberikan bukti statistik mengenai ukuran program literasi nasional Venezuela. Rodríguez menanggapi sanggahan Weisbrot dengan menunjukkan bahwa Weisbrot menggunakan data yang bias dan terdistorsi serta argumen buta aksara yang digunakan Weisbrot justru menunjukkan kebalikan dari apa yang ingin disampaikan oleh Weisbrot.
Mungkin mengandung kesalahan.
