Sekretaris Komite Pusat
Pada November 1978, Gorbachev diangkat menjadi Sekretaris Komite Pusat.
Pada November 1978, Gorbachev diangkat menjadi Sekretaris Komite Pusat.
Pada bulan November, pemimpin sekuler Front Nasional Karim Sanjabi terbang ke Paris untuk menemui Khomeini. Di sana, keduanya menandatangani perjanjian untuk draf konstitusi yang akan bersifat "Islami dan demokratis". Hal ini menandakan aliansi yang kini resmi antara kaum ulama dan oposisi sekuler. Untuk membantu menciptakan kedok demokrasi, Khomeini menempatkan tokoh-tokoh yang kebarat-baratan (seperti Sadegh Qotbzadeh dan Ebrahim Yazdi) sebagai juru bicara publik oposisi, dan tidak pernah berbicara kepada media mengenai niatnya untuk menciptakan teokrasi.
Pada tanggal 5 November, demonstrasi di Universitas Teheran berubah menjadi mematikan setelah perkelahian pecah dengan tentara bersenjata. Dalam beberapa jam, Teheran meledak menjadi kerusuhan skala penuh. Blok demi blok simbol-simbol Barat seperti bioskop dan toserba, serta gedung-gedung pemerintah dan polisi, disita, dijarah, dan dibakar. Kedutaan Besar Inggris di Teheran juga sebagian terbakar dan dirusak, dan kedutaan Amerika hampir mengalami nasib yang sama (peristiwa ini dikenal oleh pengamat asing sebagai "Hari Saat Teheran Terbakar").
Pada tanggal 6 November, Shah memecat Sharif-Emami dari jabatan perdana menteri, dan memilih untuk menunjuk pemerintahan militer sebagai gantinya. Shah memilih Jenderal Gholam-Reza Azhari sebagai perdana menteri karena pendekatannya yang lembut terhadap situasi tersebut. Kabinet yang dipilihnya hanyalah kabinet militer secara nama saja dan sebagian besar terdiri dari para pemimpin sipil.
Pada November 1978, Gorbachev diangkat menjadi Sekretaris Komite Pusat.
Pada bulan November, pemimpin sekuler Front Nasional Karim Sanjabi terbang ke Paris untuk menemui Khomeini. Di sana, keduanya menandatangani perjanjian untuk draf konstitusi yang akan bersifat "Islami dan demokratis". Hal ini menandakan aliansi yang kini resmi antara kaum ulama dan oposisi sekuler. Untuk membantu menciptakan kedok demokrasi, Khomeini menempatkan tokoh-tokoh yang kebarat-baratan (seperti Sadegh Qotbzadeh dan Ebrahim Yazdi) sebagai juru bicara publik oposisi, dan tidak pernah berbicara kepada media mengenai niatnya untuk menciptakan teokrasi.
Pada tanggal 5 November, demonstrasi di Universitas Teheran berubah menjadi mematikan setelah perkelahian pecah dengan tentara bersenjata. Dalam beberapa jam, Teheran meledak menjadi kerusuhan skala penuh. Blok demi blok simbol-simbol Barat seperti bioskop dan toserba, serta gedung-gedung pemerintah dan polisi, disita, dijarah, dan dibakar. Kedutaan Besar Inggris di Teheran juga sebagian terbakar dan dirusak, dan kedutaan Amerika hampir mengalami nasib yang sama (peristiwa ini dikenal oleh pengamat asing sebagai "Hari Saat Teheran Terbakar").
Pada tanggal 6 November, Shah memecat Sharif-Emami dari jabatan perdana menteri, dan memilih untuk menunjuk pemerintahan militer sebagai gantinya. Shah memilih Jenderal Gholam-Reza Azhari sebagai perdana menteri karena pendekatannya yang lembut terhadap situasi tersebut. Kabinet yang dipilihnya hanyalah kabinet militer secara nama saja dan sebagian besar terdiri dari para pemimpin sipil.